(Rumah Amal Salman, Bandung) – Langkah Alika Shalshabilah Lamasano menuju podium juara di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo tidak hanya menjadi torehan prestasi, tetapi juga simbol ketangguhan. Pada Oktober lalu, setelah menjadi atlet cabang olahraga Pedang Anggar, dara asal Karawang ini berhasil menyabet tiga medali emas dan perak setelah melewati perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Tiga medali emas yang ia peroleh di Pentas Olahraga Difabel tersebut diantaranya didapat dari klasifikasi Epee individual Category B Putri, Individual Foil Kategori B Putri dan Individual Sabre Kategori B Putri. Sedangkan, satu medali perak didapat saat ia tampil di klasifikasi Team Sabre bersama dua rekannya, Didah dan Sania April.
Perjalanan Alika menuju dunia olahraga tidak terlepas dari dukungan penuh orang tua. Sejak bergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) pada tahun 2024, ia mulai menekuni olahraga anggar. Awalnya, ia merasa ragu, tetapi dengan dorongan dari pelatihnya, Alika berani keluar dari zona nyaman dan menantang dirinya untuk berlatih lebih keras.
Alika mengalami kecelakaan pada tahun 2022 yang mengakibatkan kaki kirinya harus diamputasi. Kondisi itu membuatnya kehilangan semangat hidup hingga hampir dua tahun lamanya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kursi roda tanpa motivasi untuk bangkit. Namun, titik balik hidupnya terjadi saat ia bergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) pada 2024.
“Menjadi atlet adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Awalnya saya ragu, tetapi berkat dukungan dari pelatih dan tentu saja keluarga, saya bisa meraih medali di Peparnas XVII. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya,” ujar Alika.
Pencapaian ini menjadi bentuk rasa syukur bagi Alika. Ia merasa beruntung dapat berkarya di tengah keterbatasan yang ia alami. Bagi Alika, orang tua memiliki peran besar dalam kesuksesannya saat ini. Ia bertekad untuk terus berprestasi dan membanggakan keluarga serta orang-orang yang telah mendukungnya, termasuk rekan-rekan disabilitas di Rumah Amal Salman.
Alika pernah menjadi penerima manfaat kaki prostetik Rumah Amal Salman pada tahun 2023. Awal pertemuan Rumah Amal Salman dengan Alika kurang begitu lancar, sehingga ayahnya lah yang menjadi penyambung informasi antara Rumah Amal Salman dan kebutuhan Alika.
“Kami sangat senang mendapatkan kabar tentang kondisi Alika yang makin membaik, bahkan juga semakin percaya diri berlaga di ajang kompetisi. Beda sekali dengan kondisi awal ketika dulu kami ketemu. Meski secara info penggunaan kaki prostetiknya kurang optimal, sebab ada beberapa penyesuaian, tetapi tentu saja kami berharap berbagai kebaikan dapat menyertai Alika,” kata Manager Program Rumah Amal Salman, Abdul Aziz.
Di sisi lain, Peparnas XVII Solo 2024 bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan momentum penting dalam pengembangan olahraga paralimpiade di Indonesia. Dengan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, perhelatan ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi kemajuan dan inklusivitas dunia olahraga nasional.
Tahun lalu, Peparnas digelar secara terpisah dari Pekan Olahraga Nasional (PON), yang sebelumnya diselenggarakan di Aceh dan Sumatera Utara. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memaksimalkan potensi atlet disabilitas.
“Tren meningkatnya jumlah atlet Peparnas yang berhasil menembus kompetisi internasional menjadi bukti bahwa dukungan yang optimal dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan,” katanya.
Meskipun penyelenggaraan terpisah dari PON menjadi tantangan tersendiri, hal ini juga membuka peluang untuk evaluasi dan perbaikan. Ke depannya, diharapkan agar persiapan Peparnas dapat dilakukan dengan lebih matang, termasuk kemungkinan untuk kembali menyelenggarakannya di lokasi yang sama dengan PON. ***

